LAPORAN AUDIT GENDER DI MEDIA SOSIAL

Brand : Scarlett Whitening (Konvensional) dan Tiebymin (Fashion Muslim)

Siti Fadilah 2409010037
Ades Ratih Nurhati 2409010044
Adelia Bunga Widjayanti 2409010029

Program Studi : Sastra Inggris
Mata Kuliah : Literasi Digital
Dosen Pengampu: Tri Hadiyanto Sasongko S.Sos

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO

  1. Pendahuluan
    Audit gender di media sosial ini dilakukan untuk menilai representasi gender dalam konten digital dua brand: Scarlett Whitening dan Tiebymin. Analisis dilakukan berdasarkan 4 Dimensi Analisis Gender dari materi kuliah: Visual, Bahasa & Narasi, Peran Sosial & Nilai, dan Reaksi Publik.
    Tujuan audit ini adalah mengidentifikasi apakah konten brand mereproduksi Gender Stereotype atau Gender Bias, yang berpotensi memicu Tekanan Sosial Psikologi pada audiens dan menormalisasi diskriminasi di media.
  2. Profil Brand & Konten yang Diaudit
    Brand Fokus Produk Segmen Target
    Scarlett Whitening Skincare, Bodycare Perempuan remaja–dewasa
    Tiebymin Fashion Muslim (Hijab) Gen Z Muslimah
  3. Anaisis Visual (Representasi)

Brand Temuan Visual Integrasi Konsep
(Visual Bias)
Scarlett Dominasi warna pastel/lembut dan tone terang (glowing). Model selalu perempuan muda, langsing, dan berkulit cerah. Fokus pada detail wajah (serum) atau tubuh (body wash). Visual yang kuat feminin-coded, mereproduksi Gender Stereotype bahwa nilai perempuan berpusat pada kecantikan fisik dan kewajiban untuk merawat diri. Gender Bias terlihat jelas karena tidak ada representasi laki-laki, seolah perawatan kulit eksklusif untuk perempuan.
Tiebymin Model selalu perempuan berhijab, modis, dan langsing. Laki-laki sama sekali tidak muncul. Konten berfokus pada estetika busana (mix-and-match). Visual ini membangun Gender Stereotype tentang kriteria ideal seorang Muslimah: muda, langsing, dan modis. Kurangnya Representasi Keberagaman (usia, body type) menciptakan batasan yang sempit terhadap identitas muslimah, yang berpotensi menimbulkan Tekanan Sosial Psikologi pada audiens yang tidak memenuhi standar tersebut.

  1. Analisis Bahasa & Narasi (Media Language)
    Brand Temuan Narasi Integrasi Konsep
    (Narasi Bias)
    Scarlett Menggunakan diksi yang sangat feminin-coded (glow up, happy, lembab, kusam). Narasi berfokus pada transformasi penampilan (problem → solusi produk). Bahasa yang digunakan menciptakan Gender Bias dengan mengasosiasikan perempuan dengan emosionalitas dan kewajiban untuk memiliki kulit/bibir yang ‘sempurna’. Hal ini menyiratkan bahwa keresahan utama perempuan berkisar pada masalah fisik, meminggirkan peran non-fisik.
    Tiebymin Bahasa ceria, santai, dan berorientasi pada komunitas (OOTD hari ini). Narasi fokus pada self-expression dalam batas fashion syar’i. Sangat perempuan-sentris. Narasi ini masih memproduksi Gender Stereotype bahwa peran perempuan terkait erat dengan penampilan dan fashion. Meskipun positif, narasi ini membatasi identitas muslimah yang seharusnya memiliki peran yang lebih luas di masyarakat.
  2. Analisis Peran Sosial & Nilai (Role Portrayal)
    Brand Temuan Peran Sosial Integrasi Konsep
    (Peran Sosial)
    Scarlett Perempuan hanya digambarkan sebagai konsumen yang merawat diri atau objek kecantikan. Tidak ada peran profesional, kepemimpinan, atau aktivitas di ranah publik. Konten menguatkan Gender Bias bahwa tempat perempuan ideal adalah di Ranah Domestik/Privat (perawatan diri), dan mengabaikan representasi kesetaraan peran perempuan dalam Ranah Publik (kekuasaan, pekerjaan, prestasi).
    Tiebymin Perempuan berperan sebagai fashion model yang beraktivitas ringan (OOTD ke kampus). Nilai yang ditekankan adalah kepantasan dan kecantikan muslimah yang modis. Meskipun ada konteks ‘kampus’, fokusnya tetap pada peran sebagai model dan penampilan, bukan pada prestasi akademik atau peran aktif sosial mereka. Hal ini mempertahankan stereotip peran yang berpusat pada estetika berpakaian.
  3. Analisis Reaksi Publik (Engagement & Sentimen)
    • Scarlett: Engagement tinggi. Komentar didominasi pujian terhadap produk dan hasil glow up. Tidak ada sentimen negatif/kritik terhadap bias gender, yang mengindikasikan bahwa audiens telah menerima dan menormalisasi representasi kecantikan yang sempit ini sebagai hal yang wajar.
    • Tiebymin: Engagement berasal dari komunitas muslimah. Komentar berpusat pada penampilan model (“kak cantik banget”). Tidak ada diskusi isu gender, menunjukkan bahwa fokus publik adalah pada penampilan dan fashion, bukan pada isu kesetaraan.
  4. Temuan Bias & Dampak
    a) Reproduksi Gender Stereotype yang Sempit: Kedua brand memproduksi Gender Stereotype tentang kriteria ideal perempuan (muda, langsing, modis, glowing). Dampak: Memicu Tekanan Sosial Psikologi dan membatasi pilihan hidup audiens.
    b) Gender Bias melalui Pengabaian: Ketiadaan representasi laki-laki menguatkan Gender Stereotype bahwa perawatan diri dan fashion adalah urusan eksklusif perempuan. Dampak: Menghambat pesan Inclusive Communication dan normalisasi diskriminasi di media.
    c) Pengabaian Peran Publik: Perempuan secara konsisten ditampilkan dalam peran pasif (konsumen/model) yang berorientasi pada ranah privat. Dampak: Tidak mendukung upaya pemberdayaan perempuan dan kesetaraan peran sosial.
  5. Rekomendasi & Kesimpulan
    Rekomendasi Komunikasi Inklusif
    a) Untuk Scarlett:
    • Implementasikan Inclusive Communication dengan menampilkan model laki-laki untuk produk unisex.
    • Tampilkan variasi usia, warna kulit, dan bentuk tubuh (body positivity).
    • Gunakan narasi yang lebih netral (less gendered) dan fokus pada kesehatan kulit dan self-love, bukan hanya ‘kesempurnaan’ penampilan.
    b) Untuk Tiebymin:
    • Perbanyak Representasi Peran Aktif (mahasiswi berprestasi, profesional berhijab) alih-alih hanya pose OOTD.
    • Gunakan model dengan variasi body type dan usia untuk melawan standar muslimah ideal yang homogen.
    Kesimpulan
    Kedua brand menunjukkan pola representasi gender yang perempuan-sentris, kurang inklusif, dan narasinya sangat feminin-coded. Audit ini menunjukkan pentingnya pendekatan komunikasi brand yang lebih beragam dan inklusif, yang tidak hanya bertujuan menjual produk, tetapi juga mempromosikan kesetaraan peran gender di media digital.

Leave a Reply

Discover more from sitifadilahblog

Subscribe now to keep reading and get access to the full archive.

Continue reading