Finding My Voice in the Digital Era: A Reflection on Becoming a Creative Writer
In today’s digital era, career opportunities for students of English Literature are no longer limited to traditional paths such as teaching or academic research. The rapid development of digital technology has created new possibilities, especially in fields related to language and creativity. In this context, I choose to pursue a career as a creative writer, particularly as a writer of fictional stories. This decision is not only based on personal interest, but also on careful reflection on my skills, the opportunities in the digital world, and the challenges brought by the rise of artificial
intelligence (AI).

ETIKA PENGGUNAAN KECERDASAN BUATAN (AI) UNTUK MAHASISWA DAN CIVITAS AKADEMIKA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PURWOKERTO
Artificial Intelligence (AI) dapat dipahami sebagai bidang ilmu komputer yang berfokus pada pengembangan sistem yang mampu meniru cara manusia berpikir, belajar, dan mengambil keputusan. John McCarthy pada tahun 1956 mendefinisikan AI sebagai ilmu dan rekayasa untuk menciptakan mesin yang cerdas, yaitu mesin yang bukan hanya menjalankan instruksi,
tetapi juga mampu melakukan proses kognitif seperti pengenalan pola, penalaran, serta pemecahan masalah. Dengan demikian, AI berupaya membawa kemampuan manusia ke dalam

Deepfake dan Etika Kecerdasan Buatan dalam Kasus Video Hoaks Sri Mulyani
Kasus video deepfake yang menampilkan Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani Indrawati, dengan pernyataan palsu “guru adalah beban negara”, menjadi contoh nyata penyalahgunaan teknologi kecerdasan buatan di ruang digital. Video tersebut sempat viral di TikTok dan menimbulkan kesalahpahaman publik sebelum akhirnya dikonfirmasi sebagai hasil manipulasi digital. Fenomena ini menunjukkan lemahnya literasi digital dan kesadaran etika bermedia masyarakat Indonesia dalam menghadapi perkembangan teknologi kecerdasan buatan yang semakin kompleks.

Brand : Scarlett Whitening (Konvensional) dan Tiebymin (Fashion Muslim)
Audit gender di media sosial ini dilakukan untuk menilai representasi gender dalam konten digital dua brand: Scarlett Whitening dan Tiebymin. Analisis dilakukan berdasarkan 4 Dimensi Analisis Gender dari materi kuliah: Visual, Bahasa & Narasi, Peran Sosial & Nilai, dan Reaksi Publik. Tujuan audit ini adalah mengidentifikasi apakah konten brand mereproduksi Gender Stereotype atau Gender Bias, yang berpotensi memicu Tekanan Sosial Psikologi pada
audiens dan menormalisasi diskriminasi di media.

KEAMANAN DIGITAL DI ERA AI: WASPADA DEEPFAKE DAN PENCURIAN DATA
Perkembangan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence atau AI) telah membawa transformasi signifikan dalam kehidupan digital masyarakat. Teknologi ini dimanfaatkan secara luas di berbagai sektor, seperti pendidikan, bisnis, pemerintahan, dan industri hiburan, untuk meningkatkan efisiensi serta kualitas layanan. Meskipun demikian, pemanfaatan AI juga memunculkan tantangan baru, khususnya terkait keamanan digital. Dua ancaman yang semakin menonjol di era AI adalah
deepfake dan pencurian data pribadi, yang berpotensi merugikan individu maupun masyarakat secara luas. Oleh karena itu, peningkatan literasi digital menjadi hal yang mendesak agar pengguna teknologi mampu melindungi diri dari berbagai risiko di ruang digital.

Between Literature and the Screen: Finding a Calling as a Literary Edutainment Creator
The classic question that always haunts English Literature students “What are you going to do after graduation?” is not a question that needs to be answered defensively. In fact, in the midst of a rapidly evolving digital era, a major that is often considered “impractical” holds tremendous potential that has yet to be fully explored. One concrete manifestation of that potential is the profession of Literary Edutainment Creator: a content creator who combines the depth of literary
studies with the power of AI-based digital media.


